Lapis-lapis keberkahan (sebuah artikelnya Salim. A Fillah)
Lapis-lapis Keberkahan’
oleh Salim A. Fillah
dalam Rajutan Makna. 21/02/2014
Dua gunung yang
pertama; Akhsyabain julukannya.
Seperti sebutan itu pula wujudnya; dua yang
kokoh, pejal, dan keras. Bagai mempelai pengantin, keduanya menjulang tinggi
dengan gagah dilatari pelaminan langit. Cahaya mentaripun melipir ketika bayang-bayangnya
jatuh di hamparan pasir. Dinding gunung-gunung ini
cadas berrona merah, menyesak ke arah Thaif dan Makkah.
Angin gurun yang sanggup menerbangkan kerikil, seakan tak mampu mengusiknya
walau secuil.
Yang satu bernama Abu Qubais, sedang pasangannya
Qa’aiqa’an.
Adalah malaikat penjaga kedua gunung ini suatu
hari digamit Jibril menyapa seorang lelaki yang berjalan tertatih di Qarn Al
Manazil. Bekas darah yang merahnya mulai menua dan lengket masih tampak di
kakinya. Ada yang bening berbinar sendu di sudut matanya. Wajah itu tetap
cahaya meski awan lelah dan kabut duka memayungi air
mukanya. Jelas beban berat menggenangi jiwanya, tapi kita nanti akan tahu, yang
tumpah ruah tetaplah cinta.
“Ya Rasulallah”,
begitu kelak ‘Aisyah bertanya sembari bersandar mesra di bahu beliau dan
menatap matanya penuh cinta, “Pernahkah kau alami hari yang lebih berat
daripada ketika di Uhud?” Maka lelaki itu, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bercerita, seperti diriwayatkan Imam Al Bukhari berikut ini.
“Aku mendatangi para pemimpin Thaif; ‘Abdu Yalail
ibn ‘Amr, Mas’ud ibn ‘Amr, dan Hubaib ibn ‘Amr Ats Tsaqafy untuk mengajak
mereka kepada Allah. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Tirai Ka’bah
tersobek jika sampai Allah mengutus seorang Rasul’, yang berikutnya berucap,
‘Apakah Tuhanmu tak punya orang lain untuk diutus?’, dan yang terakhir berujar,
‘Aku tak mau bicara denganmu. Jika kau benar-benar Rasul, aku khawatir
mendustakanmu. Jika kau bukan Rasul, maka tak layak bagiku bicara dengan
seorang pendusta!’
Lalu setelah tiga hari aku menyusur tiap sudut
Thaif, mengetuk berbagai pintu, dan menawarkan Islam pada siapapun yang
kutemui, merekapun berramai-ramai mendustakan, mengusir, dan menyakitiku.
Akupun pergi dengan kegundahan dalam hati, hingga
tiba di Qarn Ats Tsa’alib. Ketika kuangkat kepalaku, maka tampaklah Jibril
memanggilku dengan suara yang memenuhi ufuk. ‘Sesungguhnya’, kata Jibril,
‘Rabbmu telah mengetahui apa yang dikatakan dan diperbuat kaummu terhadapmu.
Maka Dia mengutus Malaikat penjaga gunung ini untuk kauperintahkan sesukamu.”
Lalu malaikat penjaga gunung menimpali, ‘Ya
Rasulallah, ya Nabiyyallah, ya Habiballah, perintahkanlah, maka aku akan
membalikkan gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan menghancurkan mereka yang
telah ingkar, mendustakan, menista, mengusir, dan menyakitimu.’
“Tidak”, jawabku, “Sungguh aku ingin agar diriku
diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab ‘adzab. Bahkan aku ingin agar
dari sulbi-sulbi mereka, dari rahim-rahim mereka, kelak Allah akan keluarkan
anak-keturunan yang mengesakanNya dan tak menyekutukanNya dengan sesuatupun.”
***
Mari sejenak
kembali ke pertanyaan ibunda kita, sang Khumairaa. Apa yang berat bagi
kekasih Allah ini melebihi hari Uhud ketika 3 cincin rantai besi menancap di
pelipisnya, perangkap tajam mencocor lututnya, dikabarkan terbunuh hingga cerai
berai pengikutnya, kehilangan Paman tercinta, dan 70 sahabat setianya jadi
syuhada’?
Hidupnya yang penuh lika-liku dan luka tapi tanpa
leka itu, terlalu panjang untuk memeriksa satu demi satu jawabannya. Tapi kita tahu;
yang berat baginya bukan lemparan batu, bukan kala dia ruku’ lalu lehernya
dijerat, bukan juga saat dia bersujud kemudian kepalanya diinjak dan
punggungnya dituangi kotoran. Yang berat baginya bukan caci fitnah dan cela makian; bukan tuduhan gila, penyihir, atau
dukun; bukan juga 3 tahun kefakiran dalam pemboikotan.
Yang berat bagi kekasih Allah itu adalah; kala
wewenang membinasakan orang-orang yang menganiaya dirinya digenggamkan
penuh-penuh. Yang berat bagi kesayangan Ar Rahman itu adalah; ketika dalam
gemuruh sakit lahir dan batin, peluang pelampiasan dibentangkan baginya.
Terujilah jiwanya, terbuktilah cintanya, dan
tertampaklah kemuliaannya. Dia menolak dengan harapan yang memuncak atas
kebaikan yang masih kelak. Dia sebenarnya diizinkan, dihalalkan, dan diridhai
untuk berkata “Ya”; lalu gemuruh runtuh gunung Akhsyabain yang menimpa musuh
‘menghibur’ hatinya.
Tapi keputusannya adalah “Tidak!” Dan harapannya
adalah “Jikapun mereka ingkar, semoga keturunannya yang kelak akan beriman”.
Keduanya telah jadi bukti bagi namanya, Muhammad, yang terpuji di langit dan
bumi.
Ialah hujjah, bahwa dia ingin diutus sebagai
pembawa kasih dan bukan penyebab ‘adzab; Allah bahkan menyatakan dirinyalah
rahmat bagi semesta alam. Bahwa dia datang dengan kesediaan menanggung derita
ummatnya, amat menginginkan kebaikan bagi mereka, serta lembut dan welas-asih.
Bahwa dia berada di atas akhlaq yang agung; baik dalam akhlaq pada Rabbnya,
akhlaq pada dirinya, juga pada sahabat maupun musuhnya. Jernih sekali Nabi
menyebut hari terberat; ketika Jibril datang menawarkan pembinasaan musuh.
Itulah saat kemuliaan dakwah memenangi batin yang gemuruh.
Adakah nilai hidup seindah pribadi ini, yang
terpuji di langit dan bumi?
***
Sementara itu, gunung yang ketiga berasal dari
Yunani.
Di satu bagian dunia orang mati, begitu ditulis
oleh Homerus dalam Illiad & Odissey, menjulang juga sebuah gunung
yang tinggi. Di lerengnya yang terjal dan curam, berbatu dan penuh kerikil
tajam, berliku dan kelam, mudah longsor dan seram; seorang lelaki berotot kuat,
berkulit liat, bermandi keringat, dengan mata membeliak dan kaki
terhentak-hentak menghela sebuah batu raksasa, mendorongnya ke puncak yang
runcing menusuk langit.
Ini entah sudah kali ke berapa, dan tiap kali dia
menyelesaikan kerjanya, batu itu menggelinding kembali ke bawah dengan mudah.
Lalu dia harus memulai dari awal; menyungkah batu itu menyusur tebing menuju
puncak, terluka dan pedih, lelah dan perih, getir dan sedih; untuk kemudian
sang batu bergegas turun, memintanya mengulang kembali kutukannya yang abadi.
Lelaki itu; Sisyphus namanya.
Selama berabad-abad dalam peradaban Barat, nama
dan kisah ini menjadi lambang perjalanan hidup manusia yang nir-hasil dan tanpa
makna. Lelah menyiksa sekaligus tak berguna. Harapan yang setapak-tapak sampai
puncak lalu sekejap sirna. Sia-sia sekaligus mengerikan.
Tapi Albert Camus dalam esainya yang terbit di
Perancis pada tahun 1942, Le Mythe de Sisyphe, menuliskan renungan
yang membuat kita berkerenyit. “Kita harus membayangkan”, ujar Camus, “Bahwa Sisyphus
berbahagia.” Lahirlah dari tangan Camus kemudian ‘absurdisme’, aliran filsafat
dengan inti fahaman berupa sia-sianya pencarian makna, kesatuan dan kejelasan
dalam menghadapi dunia yang tak terfahami, yang tanpa Tuhan dan kekekalan.
Kebahagiaan, bagi Camus, ada di dalam diri,
berasal dari ketenangan, ketidakmelekatan, kebebasan dari segalanya, dan
penerimaan akan yang absurd. Dunia dan penghidupan kita hari ini, kata Camus,
sering lebih absurd dari apa yang dialami dan dikerjakan Sisyphus. Dan seperti
juga Sisyphus, kita tak punya pilihan. Maka, pungkas Camus, jalani saja. Dan
berbahagialah.
Tidakkah Camus terlalu memaksakan fahaman ini,
mengajak kita untuk pura-pura berbahagia?
Camus mungkin terlewat untuk membaca sebuah
anggitan lain tentang kisah Sisyphus. Dalam cerita ini, sang gunung merasa
menjadi yang paling tersiksa. Maka iapun berkata, “Betapa bahagia menjadi
Sisyphus yang berjalan-jalan antara kaki dan puncakku. Betapa bahagia menjadi
batu yang punya Sisyphus untuk membantunya naik agar menggelinding dengan
ceria. Bagaimana dengan aku yang diinjak-injak nista oleh mereka berdua?”
Tetapi sang batu juga merasa menjadi yang paling
merana. “Betapa bahagia menjadi Sisyphus yang tubuhnya terlatih, kian kuat dan
perkasa tiap kali mendorongku ke puncak sana. Betapa bahagia menjadi gunung
yang berdiam anggun dalam rehatnya saat kami kepayahan mendakinya. Bagaimana
dengan diriku yang dibawa ke atas hanya untuk terbanting kesakitan setiap
waktu?”
Demikian pula Sisyphus merasa menjadi yang paling
nestapa. “Betapa bahagia menjadi batu yang tiap saat harus kuhela, dan tiap
jatuh harus kusangga. Betapa bahagia menjadi gunung yang besar dan perkasa,
kakinya di bumi dan puncaknya di angkasa. Bagaimana dengan diriku yang tanpa
jeda harus mendorong batu dan mendaki lerengnya?”
***
Bahagia. Inilah kata paling menyihir dalam hidup
manusia.
Tak satu jiwapun kecuali merinduinya. Tak satu
akalpun kecuali mengharapinya. Tak satu ragapun kecuali mengejarnya. Tapi
kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia seakan bayang-bayang yang kian
difikir makin melipir, kian dicari makin lari, kian diburu makin tak tentu,
kian ditangkap makin melesat, kian dihadang makin hilang.
Dalam nanar mata yang tak menemukan bahagia;
insan lain tampak lebih cerah. Dalam denging telinga yang tak menangkap
bahagia; insan lain terdengar lebih ceria. Dalam gerisik hati yang tak merasa
bahagia; insan lain terkilau lebih bercahaya. Maka penderitaan manusia berlipat
berkuadrat saat ia membandingkan diri dengan sosok di sekitarnya. Seperti sang
gunung, seperti sang batu, seperti Sisyphus.
Buku tak berharga ini disusun dengan kesadaran
kecil, bahwa jika bahagia dijadikan tujuan, kita akan luput untuk menikmatinya
di sepanjang perjalanan. Bahwa jika bahagia dijadikan cita, kita akan
kehilangan ia sebagai rasa. Bahwa jika bahagia dijadikan tugas jiwa, kita akan
melalaikan kewajiban sebagai hamba. Bahwa jika bahagia dijadikan tema utama
kehidupan, kita bisa kehilangan ia setelah kematian.
Sebagai mukmin, kita lalu tahu, bahagia adalah
kata yang tak cukup untuk mewakili segenap kebaikan. Di dunia, terlebih untuk
akhirat. Oleh itulah, mari jeda sejenak dari membicarakan kebahagiaan.
Maka buku ini diberi tajuk ‘Lapis-lapis
Keberkahan’.
Hidup kita seumpama bebuahan beraneka aroma,
bentuk, warna, reraba, dan rasa, yang diiris-iris dan ditumpuk berlapis-lapis.
Tiap irisan itu adalah karunia Allah, kemudianlah tumbuh dari benih yang kita
tanam. Tiap irisan itu, punya wangi maupun anyirnya, teratur maupun acaknya,
cerah maupun kelamnya, lembut maupun kasarnya, manis maupun pahitnya, masam
maupun asinnya. Tapi kepastian dariNya dalam segala yang terindra itu adalah;
semua mengandung gizi yang bermanfaat bagi ruh, akal, dan jasad kita.
Itulah berkah. Itulah lapis-lapis keberkahan.
Ia bukan nikmat atau musibahnya; melainkan syukur
dan sabarnya. Ia bukan kaya atau miskinnya; melainkan shadaqah dan doanya. Ia
bukan sakit atau sehatnya; melainkan dzikir dan tafakkurnya. Ia bukan sedikit
atau banyaknya; melainkan ridha dan qana’ahnya. Ia bukan tinggi atau rendahnya;
melainkan tazkiyah dan tawadhu’nya. Ia bukan kuat atau lemahnya; melainkan adab
dan akhlaqnya. Ia bukan sempit atau lapangnya; melainkan zuhud dan wara’nya. Ia
bukan sukar atau mudahnya; melainkan ‘amal dan jihadnya. Ia bukan berat atau
ringannya; melainkan ikhlas dan tawakkalnya.
***
Di sudut kebun anggur milik ‘Utbah dan Syaibah
ibn Rabi’ah, sosok tegap itu terduduk dan tunduk. Rambut indahnya yang sepapak
daun telinga diliputi debu yang lengket oleh peluh. Keringat dan air mata yang
menyatu di ujung hidung nan mancung seakan membias terik jadi pelangi. Urat
biru di antara kedua alis tebalnya yang bertaut kini marun merona. Lengannya
yang kokoh terangkat, bersama mata indahnya yang bening dan bagai bercelak
menghadap ke langit. Doanya sangat permata.
“Allahumma inni asyku ilaika dha’fa quwwati..
Wa qillata hiilati..”, lirihnya, “Ya Allah, hanya kepadaMu kuadukan
lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya daya upayaku..”
Hanya pembukanya saja telah menakjubkan bagi
kita. Dia mengadu hanya kepada Allah; itu tauhidnya, yakinnya, ridhanya, dan
tawakkalnya, ikhlasnya. Dan yang dia adukan bukan penderitaannya ataupun
kejahatan kaumnya, melainkan kelemahan diri dan kurangnya upaya. Inilah
adabnya, akhlaqnya, cintanya.
Maka Adas si orang Ninawa yang mendatanginya
untuk menyerahkan anggur semata, kembali dengan terlebih dahulu mencium
ubun-ubun, tangan, dan kakinya. Sebab hanya dengan berbincang serta menatap
senyumnya yang lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu, dan lebih sejuk
dari salju, Adas merasa telah bertemu seorang manusia yang cintanya diambil
dari Khaliqnya di langit tinggi, lalu tumpah ruah membanjiri makhluq di bumi.
Inilah kisah yang terjadi sebelum Jibril membawa
Malaikat Akhsyabain menemuinya di Qarn Ats Tsa’alib atau Qarn Al Manazil.
Maka di lapis-lapis keberkahan, kita akan belajar
dari Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam; sosok yang paling
berkah. Belajar tentang hidup yang paling benar, paling berisi, paling
bermakna, paling baik, paling indah, dan paling bermanfaat. Mungkin bukan hidup
yang paling bahagia, melainkan hidup yang paling berkah. Berkah dengan segala
aroma, bentuk, warna, reraba, dan rasa.
Di lapis-lapis keberkahan, kita tinggalkan
Sisyphus yang dongeng dan nestapa, menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Di
lapis-lapis keberkahan, kita tinggalkan Sisyphus yang sia-sia dan menderita,
menuju Muhammad yang mengilhami dan penuh guna. Di lapis-lapis keberkahan, kita
biarkan Camus yang enggan memberi makna dan memaksakan rasa, menuju Muhammad
yang penuh kerja bercahaya.
Selamat datang di lapis-lapis keberkahan. Selamat
datang di hidup yang mengambil teladan dari seorang lelaki, yang namanya
terpuji di langit dan bumi. Selamat datang di lapis-lapis keberkahan. Biarlah
bahagia menjadi makmum bagi islam, iman, dan ihsan kita; membuntutinya hingga
ke surga.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda